Kamis, 18 Februari 2010

Penangkaran Cucak rawa


Penangkaran Cucakrawa


Saat ini beberapa klub burung kicauan di Indonesia mulai merasakan susahnya mencari bakalan cucakrawa yang mempunyai suara berkualitas. Padahal dengan melakukan penangkaran, kesulitan itu akan teratasi. Selain itu cucakrawa juga lebih mudah untuk dibentuk suaranya sesuai keinginan pemiliknya. Berdasarkan survei Burung Indonesia dan The Nielsen, sebanyak 58,5% dari jumlah burung kicauan adalah tangkapan alam. Dan setiap tahun jumlah tersebut akan terus meningkat. Tak pelak lama kelamaan burung yang ada di alam ini bakal terancam keberadaannya.

Pada akhirnya, hobi memelihara burung kicauan ini pun tidak bertahan lama. Pastinya, hal ini tidak diinginkan para penggemar burung kicauan yang memelihara untuk sekadar hobi ataupun disertakan dalam lomba.

Tidak Banyak Penangkar

Salah satu cara agar hobi ini tetap bisa berlanjut, maka penangkaran harus dilakukan, tak terkecuali burung cucakrawa (Pynonotus zeylanicus atau straw-headed bulbul). “Dengan penangkaran, cucakrawa yang ada di alam tidak akan terkuras habis,”
Cucakrawa tergolong burung yang keberadaannya di alam tinggal sedikit. Memang tidak banyak yang mau melakukan penangkaran burung-burung untuk lomba karena ada anggapan menangkarkan cucakrawa sulit dan merepotkan. Memang awalnya sulit, tapi kalau kita selalu belajar, kendala itu akan bisa kita hadapi.

Dengan melakukan penangkaran tidak saja memberikan dampak pada penambahan stok cucakrawa juga memberikan nilai ekonomis.Penangkaran cucakrawa ini sangat menjanjikan untuk menjadi lahan bisnis.Disamping itu para penangkar akan memberi peluang usaha kepada pencari jangkrik, penjual pakan, dan penjual sangkarnya.

Memberi Nilai Ekonomis

Sulitnya hobiis mencari cucakrawa di pasaran menjadi peluang bisnis bagi penyedia cucakrawa bakalan. Burung bakalan lebih banyak dipilih hobiis karena lebih mudah dibentuk suaranya. “Keuntungan lain adalah burung lebih akrab dengan manusia atau tidak liar.

Cucakrawa hasil penangkaran akan menghasilkan suara kicauan yang lebih indah. Burung juga lebih mudah dilatih sehingga suaranya bisa disesuaikan dengan keinginan pemiliknya. Bahkan saat disertakan lomba,burung hasil penangkaran tidak gampang stres menghadapi lingkungan yang baru.

Sebagai perbandingan, harga burung yang pada 1978 cuma Rp25.000 per pasang, kini melambung sampai Rp 4 juta—Rp 5 juta. Sedangkan untuk piyik cucakrawa Rp 4 juta perpasang.Melalui teknik pembiakan yang bagus,setiap induk bisa menghasilkan sepasang piyik seiap bulannya.

Sebuah bisnis yang menjanjikan bukan ??

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda